ANDA TELAH MEMASUKI AREA TERLARANG

hanya orang2 yang berimanlah yang bisa mengakses area ini. akan datang satu masa yang telah kita nantikan. masa dimana tidak ada penindasan dan penjajahan. masa yang akan dinantikan semua umat...

Sabtu, Desember 13, 2008

Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra

Leon Trotsky (1923)


Perdebatan mengenai “seni murni” dan seni bertendens sering terjadi diantara kaum liberal dan kaum “populis”. Permasalahan tersebut bukanlah persoalan kita. Dialektika materialis berdiri di atas ini; dari cara pandang proses historis yang obyektif, seni selalu merupakan pelayan sosial dan berdasarkan sejarah selalu bersifat utilitarian. Seni memberikan alunan kata yang dibutuhkan bagi suasana hati yang samar dan kelam, mendekatkan atau mengkontraskan pikiran dan perasaan, memperkaya pengalaman spiritual individu dan masyarakat, memurnikan perasaan, menjadikannya lebih fleksibel, lebih responsif, memperbesar volume pemikiran sebelumnya dan bukan melalui metode personal yang berdasar pada pengalaman yang terakumulasi, mendidik individu, kelompok sosial, kelas dan bangsa. Dan apa yang disumbangkannya tersebut tidak dipengaruhi oleh permasalahan apakah seni tersebut muncul di bawah bendera seni yang “murni” ataupun yang jelas-jelas bertendensi pada kasus tertentu.

Dalam perkembangan sosial masyarakat kita (Rusia), keberpihakan merupakan panji-panji kaum intelektual yang berusaha untuk membangun hubungan dengan rakyat. Kaum intelektual yang tak mempunyai kekuatan tersebut, dihancurkan oleh kekaisaran dan kehilangan lingkungan budaya, berusaha mencari dukungan pada strata bawah dalam masyarakat dan membuktikan kepada “rakyat” bahwa mereka berfikir, hidup, dan mencintai rakyat "secara luar biasa." Dan seperti halnya kaum populis yang siap turun ke masyarakat tanpa kain linen yang bersih, sisir dan sikat gigi, kaum intelektual siap mengorbankan “kerumitan” bentuk dalam ekspresi seni mereka, demi memberikan ekspresi yang paling spontan dan langsung untuk penderitaan dan harapan-harapan kaum tertindas. Pada pihak lain, seni "murni" merupakan panji-panji kaum borjuis yang sedang tumbuh, yang tidak bisa mendeklarasikan karakter borjuisnya secara terbuka, dan pada waktu yang sama berusaha mempertahankan kaum intelektual dalam kelompoknya.

Cara pandang Marxist telah dijauhkan dari tendensi-tendensi tersebut, yang memang dulunya dibutuhkan secara historis, tetapi sesudahnya menjadi sesuatu yang ketinggalan jaman. Dengan tetap mempertahankan investigasi ilmiahnya, Marxisme secara seimbang mencari akar sosial dari seni yang murni maupun seni yang berpihak. Marxisme sama sekali tidak "membebani" seorang penyair dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pemikiran dan perasaan yang dia ekpresikan, tetapi memberikan pertanyaan yang jauh lebih signifikan, yaitu, pada perasaan-perasaan yang seperti apa sebuah karya artistik berhubungan satu sama lain dalam keanehan-keanehannya? Kondisi-kondisi sosial apa yang melingkupi pemikiran dan perasaan itu? Tempat apa yang mereka jajah dalam perkembangan historis masyarakat dan kelas? Dan lebih jauh lagi, warisan sastra apa yang bermain dalam elaborasi bentuk seni yang lebih baru? Di bawah pengaruh impuls historis apa kompleksitas perasaan dan pemikiran terpecah dalam kulit yang memisahkan mereka dari wilayah kesadaran puitik? Investigasi tersebut dapat menjadi rumit, mendetil atau terindividualisasi, tetapi ide mendasarnya terletak pada peran tambahan yang dijalankan seni dalam proses sosial.

Setiap kelas memiliki kebijakannya sendiri terhadap seni, yaitu berupa sebuah sistem yang menampilkan tuntutan-tuntutan atas seni, yang berubah sesuai dengan waktu; seperti contohnya, perlindungan ala Maecenas terhadap istana dan grand seigneur, hubungan otomatis antara permintaan dan penawaran yang dipasokkan oleh metode-metode kompleks yang mempengaruhi individu-individu, dan seterusnya, dan sebagainya. Ketergantungan sosial dan bahkan personal dari seni tidaklah ditutup-tutupi, tapi secara terbuka diumumkan selama seni tersebut mempertahankan sifat jujurnya. Karakter misterius, luas, dan populer dari borjuis yang bangkit telah menggiring, secara menyeluruh, pada teori seni murni, meskipun begitu banyak penyelewengan terjadi dalam teori ini. Seperti yang telah diindikasikan di atas, sastra bertendens kaum intelektual "populist" diimbuhi dengan sebuah kepentingan kelas; kaum intelektual tidak mampu memperkuat dirinya sendiri dan merebut hak untuk memainkan peranan dalam sejarah bagi dirinya tanpa dukungan dari rakyat. Tapi dalam perjuangan revolusioner, egotisme kelas kaum intelektual terpadamkan, dan pada sayap kirinya, mereka mengasumsikan bentuk pengorbanan diri dalam tataran tertinggi. Itulah kenapa kaum intelektual menutupi seni dengan sebuah tendensi, dan juga memproklamirkannya, yaitu mengorbankan seni, seperti halnya mereka mengorbankan banyak hal lainnya.

Konsepsi Marxist tentang ketergantungan sosial obyektif serta kegunaan sosial dari seni, saat diterjemahkan dalam bahasa ilmu politik, bukannya dimaksudkan untuk mendominasi seni dengan perintah atau pesanan. Tidak benar jika dikatakan bahwa kita hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital! Tentu saja seni yang baru, tidak bisa tidak, menempatkan perjuangan proletariat pada perhatiannya yang utama. Tapi penjajakan seni baru tidaklah terbatas pada beberapa bidang saja. Sebaliknya, ini harus menjajaki semua seluruh lapangan dalam keseluruhan arah. Syair-syair pribadi dalam lingkupnya yang terkecil memiliki hak mutlak untuk tetap eksis dalam seni baru. Tetapi, manusia baru tak akan bisa dibentuk tanpa adanya sebuah puisi liris baru. Tetapi untuk menciptakannya, sang penyair harus memandang dunia dengan cara yang baru. Jika Kristus atau Sabaoth saja lunglai dalam rengkuhan para penyair (seperti dalam kasus Akhmatova, Tsvetaeva, Shkapskaya dan yang lain), ini membuktikan betapa ketinggalannya lirik mereka dan betapa tidak mencukupinya mereka bagi manusia baru. Bahkan saat dimana terminologi seperti itu tidak lebih dari sekedar kata dalam menghadapi zaman, hal tersebut menunjukkan sebuah kemacetan psikologis, dan oleh karenaya berdiri dalam kontradiksi dengan kesadaran manusia baru.

Tak seorangpun ingin atau bermaksud memaksakan tema-tema pada para penyair. Silahkan menulis tentang segala sesuatu yang anda pikirkan. Tapi biarkanlah kelas baru ini, kelas yang merasa terpanggil untuk membangun sebuah dunia baru, bersuara kepada anda dalam beberapa permasalahan-permasalahan tertentu. Kelas ini tidak memaksa penyair-penyair muda anda menerjemahkan filsafat hidup abad tujuh belas dalam bahasa yang sempurna. Karya seni, dalam lingkup tertentu dan tingkatan yang luas, bersifat merdeka, tetapi seniman yang menciptakan karya ini dan juga pemirsa yang menikmatinya bukanlah mesin-mesin mati; yang pertama menciptakan karya dan yang kedua mengapresiasi karya tersebut. Mereka adalah makhluk hidup, meskipun kadang tidak seluruhnya harmonis, dengan kondisi psikologi terkristalisasi yang mewakili sebuah kesatuan tertentu. Psikologi seperti ini merupakan akibat dari kondisi-kondisi sosial. Penciptaan dan persepsi seni adalah satu dari sekian fungsi psikologi tersebut. Dan tak peduli sepandai apapun kaum formalis mencoba menampilkan dirinya, konsepsi keseluruhan mereka secara sederhana didasarkan pada fakta bahwa mereka mengabaikan kesatuan psikologis dari manusia sosial, yang menciptakan dan menikmati apa yang telah diciptakan itu. Dalam seni, kelas proletar harus memiliki ekspresi yang berasal dari cara pandang spiritual baru yang mulai diformulasikan dalam diri mereka, dan kemana seni harus membantunya untuk menciptakan bentuk. Ini bukanlah tuntutan negara, tetapi tuntutan sejarah. Kekuatannya terletak pada obyektifitas dari kebutuhan sejarah. Anda tak bisa melewatinya begitu saja, atau lari dari kekuatannya.

Victor Shklovsky, yang secara enteng meloncat dari formalisme verbal ke penilaian subyektif, menunjukkan sikap yang sangat memusuhi teori materialisme historis seni. Dalam sebuah booklet yang dia publikasikan di Berlin, dengan judul The March of the Horse, dia memformulasikan sebuah nilai fundamental, dalam tingkatan tertentu juga tak terbantahkan, argumen panjang Shklovsky-five (bukannya empat atau enam, tapi lima) melawan konsepsi materialis seni dalam tiga halaman kecil. Mari kita bersama-sama mempelajari argumen ini, karena toh untuk mengetahui guyonan seperti apa yang disebarkannya sebagai perlawanan terakhir dari pemikiran ilmiah (dengan ragam referensi ilmiah terbesar yang termuat dalam tiga halaman microscopik yang sama) tak akan membuat kita cedera. "Jika lingkungan dan relasi produksi,' kata Shklovsky, 'telah mempengaruhi seni, lalu tidakkah tema-tema seni akan terikat pada tempat-tempat yang terhubung dalam relasi-relasi itu saja? Padahal tema tak terbatas wilayah.' Well, bagaimana dengan kupu-kupu? Menurut Darwin, mereka juga terhubung dengan relasi-relasi khusus, tapi mereka toh terbang dari satu tempat ke tempat lain, seperti halnya sastra.

Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk memahami kenapa Marxisme selalu dicurigai mengutuk atau memperbudak tema-tema. Fakta bahwa orang yang berbeda dan orang yang sama dalam kelas yang berbeda mempergunakan tema yang sama secara sederhana menunjukkan betapa terbatasnya imaginasi manusia, dan betapa manusia mencoba untuk mempertahankan energi ekonomi dalam setiap jenis kreasi, bahkan dalam artistik. Setiap kelas mencoba untuk memanfaatkan, hingga tingkatan yang tertinggi, warisan material dan spiritual dari kelas lainnya. Argumen Shklovsky dapat ditransfer secara sederhana ke dalam bidang tekhnik produktif. Mulai zaman kuno, wagon selalu didasarkan pada satu tema yang sama, yang disebut, as roda, roda, dan lampu. Tetapi, kereta patrisian Roma diadaptasi sesuai selera dan kebutuhannya, seperti halnya kereta Count Orloy, disesuaikan dengan kelembutan yang sesuai dengan selera Catherine the Great. Wagon petani Rusia diadaptasi sesuai dengan kebutuhan rumah tangganya, pada kekuatan kudanya yang kecil, dan pada karakter jalan-jalan pedesaan. Otomobil, yang tak bisa dibantah merupakan produk dari tekhnik baru, menunjukkan tema yang sama, yang disebut empat roda dan dua as roda. Tapi saat kuda para petani mundur ketakutan terkena sinar lampu yang menyilaukan dari otomobil di jalanan Rusia pada malam hari, sebuah konflik dari dua budaya terefleksi dalam sebuah episode.

"Jika lingkungan mengekspresikan dirinya sendiri dalam novel," maka muncullah argumen yang kedua, " ilmu pengetahuan Eropa tidak akan bersusah payah memikirkan dari mana cerita Seribu Satu Malam diciptakan, entah dari Mesir, India, atau Persia." Untuk menyebutkan bahwa lingkungan seseorang, termasuk seorang seniman, yaitu kondisi dari pendidikan dan kehidupannya, menemukan ekspresi dalam seninya bukanlah berarti menyatakan bahwa ekspresi seperti itu memiliki memiliki karakter geografis, etnografis, dan karakter statistikal yang sama persis. Tidaklah mengejutkan bahwa adalah sulit untuk memutuskan apakah sebuah novel ditulis di Mesir, India atau Persia, karena kondisi sosial dari negara-negara tersebut memiliki banyak kesamaan. Tapi fakta utama bahwa ilmu pengetahuan Eropa “memecahkan kepalanya” mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dari novel tersebut menunjukkan bahwa novel itu merefleksikan sebuah lingkungan, meskipun tak sama persis. Tak seorang pun bisa melompat diluar dirinya. Bahkan omelan dari seorang yang sakit jiwa berisi sesuatu yang orang itu terima dari dunia luar sebelum dia sakit. Tapi adalah gila untuk menganggap omelannya sebagai refleksi akurat dari dunia di luar dirinya. Hanya seorang psikiatris yang berpengalaman dan penuh perhitungan, yang mengetahui masa lalu dari sang pasien, yang akan mampu menemukan mana bagian realita yang terefleksi atau terdistorsi dalam isi omelannya. Kreasi artistik tentu saja bukanlah omelan meskipun ini juga merupakan pembelokan, sebuah perubahan dan transformasi realita, sesuai dengan hukum-hukum kekhususan seni. Sejauh apapun seni fantasi melangkah, dia tak bisa menolak material lain kecuali apa yang diberikan dunia tiga dimensi dan masyarakat berkelas padanya. Bahkan saat sorang artis menciptakan sorga dan neraka, dia hanya mentransformasikan pengalaman dari hidupnya dalam phantasmagoria.

"Jika ciri-ciri kelas dan kelas sendiri terakumulasi dalam seni," Shklovsky melanjutkan, "lalu bagaimana bisa dongeng-dongeng orang Rusia yang beragam mengenai bangsawannya sama dengan dongeng tentang pendeta mereka?" Dalam esensinya, ini hanyalah bentuk lain dari argumen yang pertama. Kenapa dongeng tentang bangsawan dan pendeta tidak boleh sama, dan apakah itu bertentangan dengan Marxisme? Proklamasi yang ditulis secara jelas oleh kaum Marxist seringkali membicarakan mengenai tuan tanah, kapitalis, pendeta, jendral dan penghisap lainnya. Tuan tanah tak bisa dibantah berbeda dengan kapitalis, tapi terdapat kasus dimana mereka dianggap serupa. Kenapa, karenanya, kesenian rakyat dalam kasus-kasus tertentu tidak boleh memperlakukan bangsawan dan pendeta sebagai wakil dari kelas yang berdiri di atas rakyat dan yang merampok mereka? Dalam kartun Moor dan Deni, pendeta bahkan sering berdiri berdampingan dengan tuan tanah, tanpa merusak analisa Marxisme.

"Jika ciri-ciri etnografis tercermin dalam seni," lanjut Shklovsky, " folklore tentang orang di luar batas folknya tak akan bisa terserap dan tak akan bisa dituturkan oleh folk yang lain." Seperti yang anda lihat, argumen tersebut sama sekali tak bisa dijadikan sebagai serangan pada Marxisme. Marxisme tidak pernah menyatakan bahwa ciri-ciri etnografi mempunyai sifat independen. Sebaliknya, Marxisme menekankan adanya signifikansi ketergantungan formasi folklore pada kondisi-kondisi ekonomis dan alamiah. Kesamaan kondisi dalam perkembangan masyarakat beternak dan bertani, dan kesamaan dalam karakter hubungan pengaruh-mempengaruhi yang menguntungkan antara satu sama lain, tidak bisa tidak akan akan menggiring pada penciptaan folklore yang serupa. Dan dari cara pandang pertanyaan yang menjadi perhatian kita saat ini, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan ini tidak membedakan apakah tema homogen ini muncul secara independen diantara komunitas yang berbeda, sebagai refleksi pengalaman hidup yang homogen dalam ciri mendasarnya dan yang terefleksi melalui prisma homogen imajinasi para petani, atau apakah benih dari dongeng ini diseret angin yang ramah dari satu tempat ke tempat yang lain, mengakar dimanapun juga tanah mau menerimanya. Sangatlah mungkin, dalam realitanya, bahwa metode-metode tersebut terkombinasikan.

Dan akhirnya, dalam argumen kelimanya yang terpisah, "Rasio yang telah diajukan (Marxisme) salah”- Shklovsky merujuk pada tema seputar penculikan yang diangkat dalam komedi-komedi Yunani sampai dengan drama Ostrovsky. Dengan kata lain, pengkritik kita ini mengulangi, dalam bentuk khusus, argumennya yang terawal (seperti yang kita lihat, bahkan dalam menggunakan logika formal, formalis kita ini tak bagus juga). Benar, tema-tema memang bermigrasi dari rakyat ke rakyat yang lain, dari kelas ke kelas yang lain, dan bahkan dari penulis ke penulis yang lain. Ini menunjukkan bahwa imajinasi manusia bersifat ekonomis. Sebuah kelas tidak betul-betul menciptakan budayanya dari nol, tapi merebut kepemilikan kelas sebelumnya atas budaya sebelumnya, memecahnya, menyentuhnya, menggarapnya, dan membangunnya lebih jauh. Jika tak terjadi pemanfaatan tangan kedua seperti demikian, proses historis tak akan pernah mengalami perkembangan sama sekali. Tidak hanya tema drama Ostrovsky itu saja yang didapat melalui Mesir dan melalui Yunani, tetapi kertas dimana Ostrovsky mengembangkan temanya juga merupakan sebagai sebuah pengembangan dari papyrus Mesir dan perkamen Yunani. Mari kita mengambil analogi yang lain yang lebih dekat: fakta bahwa metode kritis dari para Sophis Yunani, yang merupakan kaum formalis di zamannya, telah berpenetrasi dalam kesadaran teoritis Shklovsky, tidak merubah sama sekali fakta bahwa Shklovsky sendiri merupakan sebuah produk yang apik dari sebuah lingkungan sosial tertentu dan zaman tertentu.

Usaha menghancurkan Marxisme yang dilakukan Shklovsky dalam lima poinnya sangat mengingatkan kita pada artikel-artikel yang diterbitkan melawan Darwinisme dalam sebuah majalah The Orthodox Review pada masa lalu yang indah. Jika doktrin bahwa manusia berasal dari kera adalah benar, tulis Uskup berpendidikan Nikanor dari Odessa tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu, maka kakek kita akan memiliki tanda-tanda semacam ekor, atau setidaknya akan pernah melihat ciri seperti itu pada kakek atau nenek mereka. Kedua, seperti semua orang ketahui, monyet hanya bisa melahirkan monyet. . . . Kelima, Darwinisme salah, karena dia menyangkal formalisme-maaf, maksud saya, keputusan formal konferensi gereja seluruh dunia. Keuntungan dari rahib berpendidikan ini terletak pada fakta bahwa dia merupakan passéist terang-terangan dan mengambil pedomannya dari Rasul Paulus dan bukan dari Fisika, Kimia atau Matematika, seperti sang futuris Shklovsky lakukan.

Tak perlu dipertanyakan lagi kebenaran bahwa kebutuhan akan seni bukanlah diciptakan oleh kondisi-kondisi ekonomi. Kebutuhan akan pangan juga tak diciptakan oleh ilmu ekonomi. Sebaliknya, kebutuhan pangan dan kehangatan menciptakan ilmu ekonomi. Adalah benar bahwa seseorang tak bisa selalu menengok prinsip-prinsip Marxisme dalam memutuskan apakah akan menolak atau menerima sebuah karya seni. Sebuah karya seni harus, pertama kali, dinilai berdasarkan hukumnya sendiri, yaitu dengan hukum-hukum seni. Tapi Marxisme sendiri dapat menjelaskan kenapa dan bagaimana tendensi tertentu dalam seni bermula dalam periode tertentu sejarah; dengan kata lain, siapakah yang menciptakan tuntutan terhadap sebuah bentuk artistik dan bukan yang lain, dan kenapa.

Akan kekanak-kanakan untuk berfikir bahwa setiap kelas mampu secara menyeluruh dan penuh menciptakan seninya sendiri dari dalam dirinya sendiri, dan, secara khusus, bahwa kaum proletariat mampu untuk menciptakan sebuah seni baru melalui gilda-gilda seni dan lingkaran-lingkaran tertutup, atau dengan Organisasi Budaya Proletar, dan sebagainya. Berbicara secara umum, karya artistik manusia selalu berkelanjutan. Setiap kelas yang baru tumbuh melekatkan dirinya pada bahu kelas sebelumnya. Tapi kontinuitas ini bersifat dialektis, yaitu dia menemukan dirinya sendiri melalui tabrakan-tabrakan dan perpecahan internal. Kebutuhan atau tuntutan artistik baru bagi cara pandang artistik dan susastra baru distimulasikan oleh ekonomi, melalui perkembangan sebuah sebuah kelas baru, dan desakan kecil yang dipasok oleh perubahan posisi kelas itu, dibawah pengaruh dari pertumbuhan kekayaan serta kekuasaan budaya kelas tersebut.

Penciptaan artistik merupakan penggalian segala isi bentuk-bentuk lama yang rumit, di bawah pengaruh desakan baru yang berasal dari luar seni. Dalam pengertian yang besar, seni adalah buah tangan. Seni bukannya sebuah elemen terpisah yang mampu merawat dirinya sendiri, tapi seni adalah sebuah fungsi manusia sosial yang terikat pada hidup dan lingkungannya. Dan betapa berkarakternya–jika seseorang ingin mereduksi setiap ketakhayulan sosial ke dalam absurditasnya- seorang Shklovsky ketika dia sampai pada ide mengenai independensi mutlak seni dari lingkungan sosial dalam sebuah periode sejarah Rusia dimana seni mengungkapkan spiritualitasnya, lingkungannya dan ketergantungan materialnya pada kelas-kelas sosial, sub-kelas and kelompok-kelompok secara gamblang!

Materialisme tidak menyangkal signifikansi dari elemen-elemen bentuk, baik dalam logika, yurisprudensi atau seni. Seperti halnya sebuah sistem yurisprudensi dapat dan harus dinilai dengan logika dan konsistensi internal, maka seni juga dapat dan harus dinilai dari sudut pandang pencapaiannya dalam bentuk, karena tak akan pernah ada seni tanpanya. Namun, teori yuridis yang dicoba untuk mengembangkan independensi hukum dari kondisi sosial akan cacat pada dasar terdalamnya. Kekuatan gerak hukum terletak pada bidang ekonomi-dalam kontradiksi-kontradiksi sosial. Hukum hanya memberikan ekspresi yang terharmonisasi secara internal dan ekspresi formal dari fenomena-fenomena ini, bukan tentang kekhususan-kekhususan individual, tapi tentang karakter umumnya, yaitu elemen-elemen yang terulang dan permanen didalamnya. Kita dapat melihat sekarang dengan secercah kejelasan dalam sejarah bagaimana hukum yang baru terbentuk. Ini tidak dilakukan dengan deduksi logis, tapi melalui penilaian empirik dan penyesuaian pada kebutuhan-kebutuhan ekonomis dari kelas penguasa baru.

Sastra, yang metode dan prosesnya memiliki akar jauh di masa lalu dan mewakili pengalaman akumulatif dari kepengrajinan verbal, mengekspresikan pemikiran, perasaan, suasana hati, sudut pandang dan harapan dalam era baru dan kelas barunya. Kita tak bisa melompati tahap ini. Dan tak ada gunanya untuk melompatinya, setidaknya, bagi mereka yang tidak mengabdi pada masa lalu atau kelas yang telah hidup lebih lama dari kekuasaannya. Metode analisis formal memang dibutuhkan, tapi tidak mencukupi. Anda bisa menghitung jumalah aliterasi dalam mazmur-mazmur populer, mengklasifikasikan metafora, menghitung jumlah huruf vokal dan konsonan dalam sebuah lagu pernikahan. Ini tentu saja memperkaya pengetahuan kita akan seni rakyat, dalam satu atau beberapa segi lainnya; tapi jika anda tidak paham akan sistem bercocok tanam para petani, dan kehidupan yang didasarkan pada sistem ini, jika anda tidak tahu bagian permainan-permainan celurit, dan jika anda tidak menguasai makna dari kalender gereja bagi para petani, periode waktu dimana para petani menikah, atau dimana para petani perempuan melahirkan, anda hanya akan memahami lapisan luar kesenian folk, tapi bagian terpentingnya tidak akan pernah teraih.

Pola arsitektural dari katedral Cologne bisa dibentuk dengan cara menghitung dasar dan tinggi dari tapaknya, dengan menentukan tiga dimensi pada bagian tengahnya, dimensi-dimensi dan penempatan kolom-kolomnya, dan seterusnya. Tapi tanpa tahu seperti apa kota di abad pertangahan, apakah gilda itu, dan apakah makna dari gereja Katolik dalam abad pertengahan, katedral Cologne tak akan pernah bisa dipahami. Usaha untuk memisahkan seni dengan kehidupan, untuk mendeklarasikan kemandirian kerajinan dalam dirinya, mendevitalisasi dan membunuh seni. Kebutuhan akan tindakan seperti itu merupakan sebentuk peringatan yang tak mungkin meleset tentang adanya kemunduran intelektual.

Analogi antara argumen-argumen teologis dan Darwinisme yang disebutkan di atas mungkin terkesan tak berhubungan dan anekdotal bagi pembaca. Mungkin benar, untuk beberapa segi. Tapi sebuah hubungan yang lebih dalam memang ada. Teori formalis tak pelak akan membangkitkan kenagan kaum Marxist yang telah membaca semua lagu-lagu akrab berisikan melodi filosofis yang sangat kuno. Para ahli hukum dan dan kaum moralis (untuk mengingat kembali secara acak Stammler si orang Jerman, dan kaum subyektivis kita Mikhailovsky) mencoba untuk membuktikan bahwa moralitas dan hukum tak bisa ditentukan oleh kondisi ekonomi, karena kehidupan ekonomi tak mungkin berada diluar norma etis dan yuridis. Nyatanya, kaum formalis hukum dan moral tak pernah melangkah sampai titik dimana mereka mampu memperlihatkan independensi total hukum dan etika dari ekonomi. Mereka mengakui hubungan tertentu yang mutual dan komplek, mengakui keberadaan 'faktor,’ dan faktor-faktor ini, meski mempengaruhi satu sama lain, mempertahankan kwalitas substansi-substansi independen, datang tanpa seorangpun tahu darimana asalnya. Penegasan atas independensi total dari faktor estetik dari pengaruh kondisi-kondisi sosial, seperti yang dirumuskan oleh Shklovsky, merupakan sebuah contoh dari hiperbola spesifik yang akarnya terletak pada kondisi-kondisi sosial juga; ini adalah megalomania estetika yang menyalakan realita kehidupan yang berat pada kepalanya. Lepas dari ciri khusus ini, konstruksi kaum formalis menunjukkan metodologi yang salah, sama dengan apa yang setiap jenis idealisme lain punyai.

Bagi seorang materialis, agama, hukum, moral dan seni merepresentasikan aspek-aspek terpisah dari satu kesatuan dan proses pembangunan sosial yang sama. Meski mereka membedakan dirinya dari dasar industrialnya, bertumbuh semakin komplek, memperkuat dan mengembangkan sifat-sifat istimewanya dalam detil-detil, politik, agama, hukum, etika dan estetika tetap mempertahankan fungsi manusia sosial dan mengikuti hukum-hukum organisasi sosialnya. Kaum idealis, pada lain pihak, tidak melihat sebuah kesatuan proses perkembangan historis yang mengembangkan organ-organ dan fungsi yang perlu dari dalam dirinya sendiri, tapi lebih sebagai sebuah penginteraksian, pengkombinasian, dan persinggungan prinsip-prinsip independen tertentu- substansi-substansi agamis, politis, yuridis, estetik dan etis, yang mempunyai sebab dan penjelasan dalam diri mereka sendiri.

Idealisme (dialektis) Hegel merancang substansi-substansi semacam ini (yang merupakan kategori-kategori abadi) dalam beberapa urutan dengan cara mereduksi mereka menjadi sebuah kesatuan genetik. Lepas dari fakta bahwa kesatuan ini bagi Hegel adalah roh absolut, yang membagi dirinya sendiri dalam sebuah proses manifestasi dialektisnya menjadi beragam "faktor," sistem Hegel, karena sifat dialektisnya, bukan karena idealismenya, memberikan sebentuk gambaran realita historis seperti dalam ilustrasi sebuah tangan manusia yang dilepaskan dari sarung tangannya. Tapi kaum formalis (dan wakil terjeniusnya, Immanuel Kant) dalam hari dan jam penyingkapan filosofisnya, tidak mencermati seluruh dinamika perkembangan, melainkan hanya pada satu bagian persinggungannya saja. Mereka mengungkapkan kompleksitas dan keberagaman obyek yang terdapat dalam dalam garis pertemuan itu (bukannya proses, karena mereka tidak memikirkan tentang proses-proses). Kompleksitas ini mereka analisa dan kelompokkan. Mereka memberi nama pada elemen-elemen, yang serta merta ditransformasikan dalam esensi-esensi, dalam sub-absolut, tanpa ayah dan ibu; dalam gurauan, agama, politik, moral, hukum, seni. Di sini kita tak lagi mendapati sarung tangan sejarah yang terobek saja, tapi juga kulit jari yang terkoyak, dijemur dalam suhu abstraksi penuh, dan tangan sejarah ini menjadi produk dari “interaksi” ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan semua "faktor-faktor" lainnya. Jari kelingking merupakan"faktor" estetik, bagian yang terkecil, tapi bukannya yang terakhir dicintai.

Dalam biologi, vitalisme adalah variasi-variasi pemujaan mutlak yang sejenis dalam menunjukkan aspek-aspek berbeda dari proses dunia, tanpa pemahaman atas relasi internal. Seorang pencipta adalah semua yang tak memiliki estetika atau moralitas absolut dan supersosial, atau “kekuatan vital” absolut superfisikal. Keberagaman faktor-faktor independen, "faktor-faktor" yang tak berawal dan berakhir, tidak lain adalah sebuah politeisme bertopeng. Seperti halnya idealisme Kantian secara historis mewakili sebuah terjemahan Kekristenan dalam bahasa filsafat rasionalistik, semua jenis formalisasi idealistik, baik yang terbuka maupun rahasia, menggiring kita pada figur tuhan, sebab dari segala sebab. Dalam perbandingan dengan oligarki sekumpulan sub-absolut filsafat idealis, seorang individu pencipta tunggal hanyalah satu elemen dalam deretan yang ada. Di sinilah terletak hubungan yang lebih dalam antara penolakan kaum formalis terhadap Marxisme dan penolakan teologis terhadap Darwinisme. Mazhab formalis adalah idealisme gagal yang diterapkan pada pertanyaan seni. Kaum formalis menunjukkan sebuah relijiusitas yang matang. Mereka adalah pengikut Santo Yohanes. Mereka percaya bahwa "pada mulanya adalah Firman." Namun kita percaya bahwa pada mulanya adalah perbuatan. Sang kata mengikuti, sebagai bayang-bayang fonetiknya***

Kamis, November 27, 2008

Tentang Tikus dan Curut


Alkisah, menurut sahibul hikayat bin ngibul, ada seekor tikus yang menggugat kepada Dewa Tikus, kenapa nasibnya sial bener. Kok ya cuma jadi seekor tikus. Ia mohon supaya bolehlah ia menjadi kucing karena kucing selalu lebih hebat dan menjadi ancaman nyata bagi nyawa tikus. “Boleh,” kata Dewa Tikus, “engkau boleh menjadi apa saja seturut kehendakmu.” “Tetapi ada syaratnya. Engkau harus ekstra hati-hati dengan kemauanmu, karena mungkin itu akan terwujud bagimu.” Maka jadilah tikus itu seekor kucing. Namun – deep inside - hatinya tetap hati seekor tikus. Tetap bermental tikus, tepatnya. Saat menjelma menjadi kucing ia menghadapi kenyataan hidup baru. Nyawanya selalu terancam oleh anjing-anjing. Maka si kucing dengan mental tikus ini lalu “make a wish”. Mungkin enak juga ya kalau bisa menjadi anjing galak. Maka sim salabim … berubahlah kucing tadi menjadi seekor anjing yang galak… dan buruk rupa. Setelah sekian lama hidup bebas dan berkeliaran sebagai anjing geladak ia ditangkap oleh seorang manusia. Ia dibawa pulang untuk dijinakkan dan bakal dijadikan anjing pemburu. Laki-laki yang membawa anjing itu mendapat hujan omelan dari isterinya. “Ngapain coba membawa anjing geladak segala ke rumah”. Ia mengusir suaminya supaya kembali ke hutan untuk mencari kijang kek, kelinci kek atau apalah yang bisa segera disantap. Sesaat kemudian terjadilah suatu petaka. Isteri pemburu yang galak itu sedang bersih-bersih, tiba-tiba keluarlah “out of no where” seekor tikus betina and the gang. Maka perempuan itu langsung loncat ke atas meja dan menggigil ketakutan, hanya karena kemunculan mendadak tikus-tikus tersebut. “Aha! Eureka! Ternyata menjadi tikus itu tidak terlalu buruk juga. Ternyata perempuan yang super-duper galak itu tidak takut kepada suaminya yang perkasa. Ternyata ia justru takut pada bangsaku. Takut kepada tikus-tikus beneran.” Maka anjing yang bermental tikus itu langsung mengajukan permohonan terakhir kepada Dewa Tikus. “Dimuliakanlah dikau wahai Dewa Tikus. Izinkanlah daku kembali menjadi tikus biasa dengan mental tikusku. Ternyata manusia yang perkasa itu rupanya takut kepada bangsa kita. Bangsa tikus.”

Tentu saja Dewa Tikus langsung mengabulkan doanya yang penuh kesadaran dan pertobatan itu. Ia pun kembali menjadi tikus kecil tetapi kini ikhlas dengan kodratnya. Tetapi kini ia mengalami transformasi diri. Ia memiliki mental baru yang mampu menerima dan menghayati kodrat ketikusannya. Ia tidak pernah lagi memohon-mohon untuk menjadi mahluk apapun yang bukan-tikus.

hikayat di atas mengingatkan cerita seorang kawan yang asik memburu seekor tikus di rumahnya. setiap malam asik nongkrong didepan jebakanya. setia menunggu kedatangan sang tikus dengan bersenjatakan sebotol baygon.
suatu malam tiba, dengan bersenjatakan lengkap pak dhe maruan wibisono telah setia kembali menunggu buruanya muncul. dengan lagak seorang koboi, sambil menghisap sebatang rokok filter yang dibeli di warung sebelah pak dhe bertekad, "malam ini harus menjadi malam pembantaian..!!!".
terinspirasi cerita hitler yang konon melakukan genoside dengan cara memberi gas. pak dhe juga lengkap dengan sebotol baygon.
ditengah hisapan rokoknya yang ketiga, tidak sampai sepeminuman teh muncul dari balik tembok seekor tikus. dengan wajah tak berdosa tikus mencoba menjejakan langkahnya lebih dalam memasuki area rumah pak dhe. sekitaka wajah pak dhe menegang, sambil masih tetap memegang senjata. mencoba memastika senjatanya sudah terisi penuh, mata pak dhe tetap mengawasi gerak langkah sang tikus.
tiba-tiba dengan menggunakan ginkang yang dimilikinya, sang tikus mengendus sebuah bau yang membuatnya tertarik. mencoba mencari sumber bau, sang tikus mengendus. dan menemukan sepotong ikan dalam sebuah kotak. tanpa berpikir lama, sang tikus mengayunkan langkah dengan cepat dan melesat kedalam kotak. sekejapan mata sang tikus sudah didalam kotak. tiba-tiba kotak itu menutup dengan sendirinya. dan tikus terperangkap didalamnya.
melihat hal itu, pak dhe maruan gembira.. "Ahaaa.... ketangkap kamu tikus"
seolah mendapat lotere satu milyar, pak dhe menari-nari sambil memutari kotak dan mengangkat senjatanya sambil teriak-teriak layaknya kepala sukua indian di amerika sana.
setelah lelah melakukan ritual menari-nari, pak dhe mengokang senjata baygonya dan menyemprotkan sedikit-sedikit ke arah moncong tikus. kembali membayangkan hitler yang menggenoside, pak dhe memberi semprotan baygon kearah moncong tikus. sang tikus tentu sana menjerit-jerit sesak napas.
tak berapa lama sang tikus terlihat terkulai lemah tak berdaya. tertunduk lemas didalam kotak yang ternyata jebakan buat dirinya. dengan mata sayu seolah tanpa harapan sang tikus mencoba bangkit berdiri. tapi daya dalam dirinya melemah, seiring dengan lemahnya ginkang yang dimiliki sang tikus. sambil terus mencoba berdiri tegak menghadapi kematian didepan matanya, sang tikus mencoba mengangkat kakinya yang depan. seiring itu pula pak dhe memberi semprotan baygon kearah hidungnya.
merasa harapanya tipis untuk hidup apalagi melarikan diri, sang tikus menatap wajah pak dhe. sontak pak dhe terkaget!!!
dalam gumamnya yang lirih sang tikus mencoba mengeluarkan kalimat terakhirnya... ".. Ingat pak dhe, kali ini seekor tikus boleh kamu bunuh, tapi ingat bahwa akan datang tikus-tikus yang lain yang akan meneruskan perjuanganku..." uhhuukkk..
seolah mendengar suara gumam sang tikus, pak dhe teringat gumam seorang seniman yang telah hilang diculik. dalam gumamnya seniman yang juga aktivis buruh itu meneriakan kalimat terakhir dalam puisi dengan kata LAWAN!!!..



ditulis dari inspirasi oleh beberapa kawan, baik yang masih ada maupun telah tiada.
ada dan tiada adalah sebuah ungkapan. ada dan tiada bisa diartikan dalam harfiah sebagai wujud
juga bisa di artikan dalam makna keyakinan.. suwunn



Kamis, November 20, 2008

Perjalanan Waktu II

aku tidak begitu ingat tepatnya. tapi tepat tanggal 29 juli, 30 tahun yang lampau lahir seorang anak bayi ke dunia fana. masih jelas dalam ingatan 1978 adalah tahun dimana Presiden Afghanistan Mohammed Daoud Khan dikudeta dan dibunuh oleh pemberontak pro-komunis. di yogya terjadi peristiwa maret 1978, di boulevard UGM. penyerbuan tentara yang masuk kampus setelah Suharto menjabat presiden ke dua kalinya. Tentara yang konon diambilkan pasukan yang baru pulang dari Timor Timur, dengan BAYONET dan PELURU tajam mengobrak abrik UGM.

1 Februari 1978, terjadi peristiwa penyerbuan kampus ITB oleh tentara. 1 Februari dini hari dimulau operasi penangkapan aktivis mahasiswa oleh tentara. peristiwa penyerbuan ITB ini merupakan awal dimulainya pembungkaman terhadap demokrasi. itu ditandai dengan penculikan dan penangkapan aktivis ITB dan di beberapa kota yang sejak awal menentang suharto dan menentang dwi fungsi ABRI.

Wimar capres
Wimar dan Suvat kembali ke Indonesia tahun 1975. Mereka tinggal dahulu bersama orangtua Wimar di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan. Suvat tanpa kesulitan mampu bergaul dan beradaptasi dengan keluarga besar Wimar yang berpandangan luas. Kemudian, Suvat segera berganti kewarganegaraan. Menjelang Pemilu 1977, nama Wimar sesungguhnya sudah kembali masuk sebagai caleg Golkar dari Bandung, kendati ia masih di Amerika ketika itu. Dianggap Wimar masih dibutuhkan dan punya pengaruh yang layak dijual ke massa pemilih.

Tapi tawaran itu ditampik. Ia melihat Soeharto yang akan dicalonkan kembali, bahkan tampil sebagai calon tunggal presiden 1978-1983, sudah terlalu lama memerintah 12 tahun. Langkah Soeharto sebagai pemimpin pun dilihatnya sudah terlalu melenceng.

Wimar akhirnya ikut kecewa pula terhadap Golkar, organisasi politik yang ikut dibentukannya yang kemudian mau saja dijadikan kendaraan politik oleh Pak Harto.
Bersama mahasiswa ITB dan teman-teman angkatan tahun 1972 dan 1973, Wimar mulai bergerak. Ia menentang pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Ia membentangkan spanduk besar di gerbang Kampus Ganesha: “Tidak Mempercayai Lagi Soeharto sebagai Presiden RI.” Sebagai bukti nyata penolakan, agar Soeharto bukan calon tunggal, Wimar lalu ikut mencalonkan diri sebagai calon presiden 1978.

banyak peristiwa muncul, PERJALANAN WAKTU tidak akan pernah memundurkan langkahnya. demikianpun dengan kusno laki-laki yang juga lahir tahun 1978. yang jelas mundur dalam diri kusno adalah menikah. 2009 yang diangankan (kawin aja masih angan2), tidak mendapat restu karena katanya menjadi tahun duda. ahh... masih aja ada pemikiran kuno, dalam hi-tech.

kusno masih lelah dalam pikir..
(nyambung aja yee..)

Selasa, November 18, 2008

LAGI-LAGI TENTANG PULANG

Sobron Aidit:


LAGI-LAGI TENTANG PULANG

Ada yang bilang boleh
ada yang bilang tidak
cabut - tidak, cabut - tidak
pulang - tidak, pulang - tidak
cabut undang-undang
tapi undang-undang tak boleh dipegang
gongnya TAP duapuluh lima
gongnya Instruksi tigapuluh dua
bertengkar kalian tentang kami
begitu ramai hirau-degau
bicara soal pulang
sedang kami tenang-tenang di kampung orang
puluhan tahun terkadang memang terasa terbuang.

Ada yang diam-diam siap berjihad
berpakaian putih bagaikan mau perang suci
yang katanya menghalalkan darah kami
sedang yang akan dihadapi
adalah yang tua-renta dan bayi-bayi
perihal kami sederhana saja
daripada menyerahkan batang leher
menyerahkan nyawa dan jiwa
lebih baiklah kami berkubur di sini,-


SERULING PAGI

Sobron Aidit:



SERULING PAGI

Ketika aku lari jam lima tadi
kudengar seruling meniti nada
merdu nian mengalun gini pagi
apatah gerangan kisah begitu sendu?
akh, jadi hangat dan tersendat rasa rindu
kuikuti seorang tua berbaju tebal
dinginnya hari, diutupnya telinga dan kepala
tapi serulingnya, serulingnya, aih mak, serulingnya
di gelombang tenang berlayar sebuah kapal
ditiup angin cinta
dibuai bayu asmara
o, seruling bambu
berlagu merdu
tak perduli lalu-lalang sepeda
simpangsiur truk dan bis
pabila hati kala duka
pabila jiwa kala suka
langit dan laut boleh siapa saja yang punya
dan bagaikan pagi ini
orangtua di awal musimdingin
meniup serulingnya
berlayar sebuah kapal
dan akulah penumpangnya,-


Beijing 27 November 1979,-

KISAH SEBUAH BENDERA

Sobron Aidit:



KISAH SEBUAH BENDERA


Mereka naikkan bendera merah
di sebuah patung tinggi yang megah
di tengah jantung kota
sekejap berkibar
lalu mereka bakar!

Adalah siapa yang tergila-gila bakar-bakar
adalah siapa tuding menuding makar-makar
dendam kesumatnya pada bendera merah
haus dahaganya mengalirkan darah
baru saja kemarin terpenggal lebih sejuta
masih juga terus pancing-memancing
hausnya tak puas-puas
seleranya tak lepas-lepas
ketahuilah yang suka ramai-ramai
paling segan dan takut berdamai-damai
ketahuilah yang suka tantang-menantang
paling segan dan takut runding-berunding
sayang, nama Tuhan selalu jadi tameng
namun setiap perbuatan menjelaskan
secara terang benderang,-

Sabtu, November 01, 2008

Perjalanan Waktu




Rabu agak larut malam, jam menunjukan 23.21 WIB, suasana malam yang tentram seorang lelaki malam termenung. Lelaki malang dalam kesendirianya yang baru pulang dari sebuah kegiatan diskusi ini, tiduran dalam kamar sempit ukuran 2x3 meter. Sambil menatap langit2 kamar yang kosong, termenung memikirkan hidup. Di sebelah tergeletak beberapa catatan kecil dan beberapa sobekan kertas selebaran, juga nampak beberapa buah buku yang tergeletak tak beraturan. Suasana kamar yang kumuh dan terlihat usang terlihat jelas dalam dinding yang tidak ada hiasan sama sekali kecuali cat dinding yang sudah usang.
Sebut saja lelaki itu bernama kusno, nama yang sekilas mirip bintang film masa lalu yang juga pernah berjuang dalam kemerdekaan indonesia 1945. Kusno yang sekarang berumur 30an tahun, tidak lagi bisa menatap gemebyarnya ulang tahun sebuah stasiun televisi yang disiarkan secara langsung. Gemebyar ulang tahun stasiun tivi ini tidak menarik lagi perhatian kusno untuk menatap keceriaan hidup. Kusno yang tidak pernah bisa menyelesaikan bangku sekolah ini, seolah menikmati hidupnya dengan penuh sesak dan jauh dari pengharapan tentang materi.
Dengan rokok ditempelkan dimulut yang dihisap dan dihembuskan ke udara, seolah ingin melepas beban penat dan beratnya hidup yang harus ditempuh. Ditemani sebatang rokok dan kopi hitam pekat disebelah tikarnya, kusno masih terpikir dalam benaknya bagaimana dengan aksi demonstrasi esok hari yang akan dilakukan bersama beberapa kawan2nya. Apakah aksi esok hari ini akan mendapatkan perlawanan dari aparat atau tidak? Apakah aksi esok hari akan bisa terpenuhi tuntutan yang berusaha di suarakan?
Bahhhh....!!!! Tiba-tiba kusno bangkit dari tiduranya dan duduk bersila sambil membuka-buka lagi catatan-catatan kecil yang tadi diletakkan. Dilihat beberapa selebaran dan tulisan yang isinya tentang rencana aksi esok hari. Ya, kusno yang seorang pemuda yang aktif di gerakan tengah merencanakan sebuah aksi esok hari dengan kawan-kawannya untuk menuntut supaya pemerintah mau dan berpihak terhadap rakyat. Memang beberapa waktu yang lalu kusno melihat di sebuah tivi yang menyatakan bahwa pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang isinya menyatakan menaikan harga BBM.
Ditengah gejolak pikiranya yang menerawang kemana-mana tentang aksi demonstrasi esok hari, sayup-sayup ditelinga kusno terdengar lagunya jamrud berjudul hallo penjahat. Sejenak kusno diam mendengarkan lagu itu, sambil kembali menyedot rokok filternya dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan-pelan supaya asapnya menyebar untuk bisa mengusir nyamuk yang mulai menggigiti kulitnya. Dalam pikiranya enak banget jadi penyanyi atau artis, kerjaanya menghibur orang, juga bisa menjadi hobi tapi bisa dapat bayaran gede. Kemudian muncul kembali ingatanya tentang pencarian penyanyi baru yang dikemas tivi dengan berbagai macam acara. Kemasan tivi dalam mencari penyanyi atau artis baru ini begitu menarik perhatian masyarakat.
Sebuah program acara yang banyak di gemari oleh banyak anak muda juga pemimpi-pemimpi yang berpikir bisa menggantungkan hidupnya dari acara ini. Sebuah program yang mencari bibit atau artis baru secara cepat (instan) ini memang hampir semua tivi membuat. Dalam benak kusno terbayang apakah sekarang ini pola pikir masyarakat itu memang secara instant (cepat saji)? Timbul lagi pertanyaan dalam dirinya bukankah yang instant itu biasanya tidak sehat? Bukankah yang serba instant itu biasanya menghasilkan sesuatu yang tidak berkualitas? Apakah memang kuantitas ini merupakan sesuatu yang utama? Kalau begitu kenapa tidak saja semua orang menjadi artis atau penyanyi? Mencoba berpikir arif kusno menyimpulkan, mungkin saja karena tivi mulai kehabisan program yang bermutu. Atau mungkin saja karena acara ini bisa menarik banyak iklan dibandingkan menampilkan program yang berpendidikan yang biasanya iklanya sedikit. Atau mungkin juga bisa membayar murah artis, kalau artis barukan bayaranya murah. Sambil mengernyitkan dahi kusno berpikir keras, bahaya ini kalau pola pikir masyarakat sudah demikian.
Seolah lelah berpikir kusno meraih gelas kopinya kemudian meminumnya sedikit. Kembali pikiran kusno berputar-putar seolah mencari penambatan terakhir. Tiba-tiba kusno tersenyum sendiri. Rupanya dia teringat peristiwa lucu ketika tengah bermain badminton yang memang menjadi salah satu hobinya.
Teringat Senin sore itu kusno di telp bawor teman mainya badminton untuk cepat-cepat ke lapangan. Ya kusno memang bersama beberapa temanya tiap senin sore punya kebiasaan main badminton. Tiba-tiba HP yang dikantonginya berdering, terlihat dalam Hpnya temanya Bawor menelepon, kusno kemudian mengangkat telpnya. “Ya.. halloo..”, kata Kusno. “Cepet ke lapangan”, terdengar suara bawor ditelp. Kusno menjawab “Ya.. ya.. bentar lagi”, sambil menutup telpnya. Kemudian kusno berangkat ke lapangan badminton yang terletak dikelurahan. Disana sudah berkumpul beberapa temanya ada Bawor yang tadi menelepon, kemudian imin yang bertubuh sama kecilnya dengan kusno, ada radi yang agak gempal tubuhnya dan yang satu pirin yang kadang-kadang suka minum minuman keras. Kusno masuk ke lapangan untuk pemanasan sedikit, dan kemudian dilanjutkan bermain badminton. Dengan sambil bergaya dan banyak omong kusno bermain berpasangan dengan radi. Ditengah permainan kusno selalu mengertak lawan mainya bawor yang berpasangan dengan pirin. Tiba-tiba saja bulu kock yang dipakai meluncur keras kearah kusno dan tepat mendarat di bibir kusno yang banyak omong. Kusno sejenak kaget dan menahan sakit dibibir yang teman-temanya melihat sambil tertawa terbahak-bahak.
Aihh.. Kusno kembali tersenyum kecut ketika mengingat peristiwa tersebut. Dalam pikiranya kusno melayang-layang pikiran, alangkah enaknya menjadi orang sehat. Tiba-tiba wajah kusno kembali ditekuk, bagaimana bisa sehat kalau makan saja tidak teratur bahkan tidak banyak bergizi? Jelas ini salah kaprahnya pemimpin kita, yang selalu membuat rakyatnya sengsara dengan bermacam kebijakanya. Terlihat ketidak puasan dalam wajah kusno, tapi bagaimana caranya untuk bisa merubah? Pikir kusno.
Kusno telah banyak mengalami pengalaman hidup sampai dengan umurnya sekarang. Sebagai mantan mahasiswa yang tidak pernah bisa diselesaikanya dia tergolong orang yang tetap bertahan dengan dunia gerakan yang menjadi pilihan hidupnya. Sebuah pilihan yang mungkin bagi segelintir orang yang bisa memahaminya. Kadangpun muncul dalam benak pikiranya, siapa sih orang yang mau hidup susah? Siapa orang yang mau hidup dalam kekurangan? Semua orang pasti ingin hidup enak, sehat, serba berkecukupan. Tapi apakah untuk bisa hidup enak kita harus melupakan sekitar, bahkan kalau perlu menginjak-injak orang lain? Dia kemudian terngingat seorang kawan lain yang juga pernah aktif dalam dunia gerakan di sebuah kota yang katanya kota mahasiswa, kota budaya terletak di selatan pulau jawa.
Wowok nama kawanya ini, teringat ucapan wowok yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan dikota kecil di utara pula jawa. “Dalam hidup ada istilah jawa kuno yang mengatakan bahwa urip mung mampir ngombe (Hidup itu hanya mampir untuk minum)”, kata wowok ini sambil melanjutkan. “Tapi kalau pas kebagian kita minum air comberan kan susah, bisa bikin sakit perut. Kalau pas kebagian minum es krim sih enak”, kata wowok. Kusno menyahut, “wah iya ya... pertanyaanya apakah yang kebagian es krim ini mau membagi es krimnya?” Sambil meminum teh yang masih panas, wowok menjawab “La itu, apakah manusia itu masih mempunyai nuraninya atau tidak? Kalau masih punya dia pasti membagi es krimnya. Harusnya ungkapan jawa itu di rubah”.
Kusno masih mengingat-ingat ucapan kawanya yang memang eksentrik ini. Diskusi malam itu banyak membawa berkah bagi kusno dan semakin menggugah perasaan kusno. Apalagi dia jarang berdiskusi dengan wowok, kebetulan istrinya baru mudik ke kota budaya sehingga dia bisa leluasa keluar malam. Wowok yang juga penyuka pelawak tua basio yang sudah mati ini memang punya segudang ungkapan hidup jawa yang sayang jarang dikeluarkan. Aihh.. Wowok kenapa tidak di tularkan pemikiran-pemikiranmu yang asik dan enak dalam menjalani hidup?
Tiba-tiba kusno melihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 01.30 WIB. Ah kenapa malam ini tidak bisa tidur aku? Lamun kusno kembali. Rupanya dia masih berpikir kembali tentang aksi esok hari. Aksi esok hari memang akan terlihat kontroversial karena akan ada mogok makan, dan juga shalat mayat. Pasti akan banyak yang mencibir bahkan mencaci aksinya, karena memang tidak hanya satu kali mendapat cibiran ketika melakukan aksi. Kusno mencoba menutup matanya agar bisa terlelap tidur dan mimpi indah menjadi artis atau orang kaya. Karena memang hanya dalam mimpi dan lamunanlah kusno bisa merasakanya. .... (bersambung)

Selasa, November 27, 2007

budaya dan kelompok anti demokrasi menjadi ancaman

Oleh Tejo Priyono

Demokrasi yang merupakan hasil dari perjuangan panjang rakyat mendapat ancaman serius. Kecenderungan demokrasi saat ini tidak serta-merta membolehkan bentuk-bentuk progresif kebudayaan. Aksi massa dengan program nasionalisasi industri pertambangan, aktivitas-aktivitas politik Papernas terbukti menakutkan bagi kelas borjuis imperialis dan kompradornya di dalam negeri, hingga mereka perlu memberi ”proyek” pada Front Anti Komunis Indonesia (FAKI), FPI, FBR untuk merepresinya.

Juga teror-teror fisik (aksi kekerasan, teror, dan intimidasi) dan struktural (berupa Perda-Perda Syariat dan sebagainya) yang diarahkan pada kaum perempuan, diskriminasi terhadap hak-hak kaum lesbian-gay-biseksual, transeksual (LGBT) juga watak kekuasaaan yang diskriminatif kelompok-kelompok agama dan aliran kepercayaan minoritas: seperti larangan acara Kebaktian Kebangunan Rohani/KKR di Jogja Festival 2007 (Selasa, 29 Mei 2007 yang sedianya menghadirkan evangelist asal Kanada Dr Peter Youngren dan Adon vocalis Base Jam) batal terselenggara karena warga yang tergabung dalam ormas keagamaan di Jogja mendesak polisi untuk tidak memberi izin. Mereka sebut kegiatan itu adalah pemurtadan massal berkedok pengobatan gratis.

Budaya militeristik juga menguat pada kasus IPDN, menyusul kematian Cliff Muntu, salah seorang praja tingkat II di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Juga dalam insiden penembakan oleh anggota TNI AL terhadap warga Alas Tlogo, Grati, Lekok, Kabupaten Pasuruan hingga menewaskan 5 warga desa Grati yang terdiri dari beberapa wanita dan anak balita.

Di ranah seni audio visual/film, dinamikanya bisa dimulai pada Rabu 3 Januari 2007 di Jakarta saat rame-rame pekerja film (Dian Sastro, Mira Lesmana, Tora Sudiro, Hanung Bramantyo, Riri Riza dan sebagainya) yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) mengembalikan piala citra FFI 2006 sebagai protes atas penjurian yang memenangkan Ekskul sebagai film terbaik Festival Film Indonesia 2006. Protes MFI berlanjut terhadap sistem kelembagaan perfilman Indonesia yang dinilai MFI masih dijalankan oleh lembaga dan organisasi bentukan Departemen Penerangan di masa Orde Baru, seperti Lembaga Sensor Film, BP2N, organisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya yang mereka sebut tidak mencerminkan semangat pembaharuan serta tidak berpihak pada kemajuan perfilman Indonesia. Sementara itu industri film Indonesia setelah era percintaan remaja kini tengah booming film-film horor macam Kuntilanak, Pocong, Hantu Bangku Kosong, Hantu Jeruk Purut, Terowongan Casablanca, Malam Jumat Kliwon, Angker Batu, Suster Ngesot yang menindih film bernafaskan nasionalisme (Naga Bonar 2) atau tema-tema yang lebih rasional; Mendadak Dangdut, Denias, dan Mengejar Mas-Mas.

Sektor musik, di industri pertunjukan masih menghadirkan artis, grup vocal atau band dari luar negeri dan jadi andalan untuk nanggok untung para promotor musik kita. Kurun waktu setengah tahun ini ada Hoobastank (Rock), Good Charlotte (Rock), Dragon Force (Speed Metal), Soasin (Rock), Muse (Rock), Lionel Ritchie (Pop), DJ Tiesto (Dance/House), Simple Plan (Pop Punk), III Divo (Klasik), Boyz II Men (R&B), Toto (Classic Rock). Juga hajatan Jakarta International Java Jazz Festival yang menghadirkan banyak musisi jazz dunia.

Selain mengimpor musik dari mancanegara, kita juga mengekspor musik ke luar negeri. Setelah Anggun kini giliran Agnes bersiap Go Asia: ke Jepang, Taiwan, dan Hongkong. Untuk kasus Malaysia, saking mbludaknya kiprah artis pop kita di sana membuat seorang pengamat musik Malaysia (yang ia sendiri akui bahwa banyak karya bermutu baik sastra dan musik Indonesia menjadi santapan jiwa rakyat Malaysia sejak lama, bahkan ketika era sebelum merdeka dulu seperti lagu Jangan Ditanya, Melati di Tapal Batas, Rindu Lukisan Ismail Marzuki atau Bengawan Solo Gesang, menurutnya telah lama hidup di jiwa rakyat negeri itu) perlu menulis artikel di Utusan Malaysia Online dengan judul: “Kenapa Impor Lagu Sampah?”

Nidji saja kaget saat menyambangi radio-radio Malaysia untuk promo musik di sana, ternyata tangga lagu mereka, posisi 10 besar semuanya diisi oleh musik Indonesia.

Sementara industri rekaman artis lokal masih diwarnai pertempuran antara yang lama versus pendatang baru, otomatis promo dagangnya bersaing keras, inovatif, kreatif dan gila-gilaan dalam nggelontorkan uang; contohnya launching album Hari Yang Cerah- Peterpan ditayangkan serentak di 7 stasiun TV.
***

Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu

Sekalipun demikian nilai-nilai budaya progresif dan kerakyatan secara bertahap juga terus mengalami kemajuan. Kemajuan di bidang kualitasnya, kuantitasnya, juga ketegasannya untuk berpihak pada kepentingan rakyat miskin.

Di Januari 2007, dari Manado Sulawesi Utara pembangunan gerakan kebudayaan pro rakyat miskin diawali dengan tampilnya Kolektif Kerja Budaya Rakyat (KKBR) pada tanggal 6 Januari 2007. Kelahiran KKBR adalah salah satu upaya yang patut dihargai untuk menjawab kebutuhan akan hadirnya organ kebudayaan di Manado untuk bersama-sama gerakan rakyat demokratik lainnya memperjuangkan hak-hak politik dan kesejahteraan rakyat yang masih banyak ditindas. Terbentuk dan langsung menggebrak dengan kerja-kerja budaya seperti pentas musik, bedah buku, aksi massa, pentas teater, penggalangan front, dan merencanakan penerbitan koran Gerak Budaya.

Saat May Day 2007 lalu, kreativitas buruh (dari FSBJ, Kasbi dan organisasi-organisasi lain yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat) tercermin pada tuntutan naikkan upah, penghapusan sistem kerja kontrak, penolakan PHK, korupsi yang disampaikan dengan indah lewat kaos, poster, karikatur, aksi teatrikal. Lagu Awas! Inggris Amerika (yang pernah populer sebagai lagu perjuangan rakyat melawan neo kolonialis era Soekarno dulu) membahana dinyanyikan massa aksi, tak ketinggalan seniman musik dari Bandung; Mukti Mukti menyanyikan lagunya: Menitip Mati /The Revolusi is.

Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi (LPME) Ecpose FE Universitas Jember menggelar bedah buku (sastra) buruh migran bertema: “TKI Menulis, TKI Bicara” pada 4 Mei 2007. Hadir Enni Kusuma (TKI yang bekerja di Hongkong sebagai PRT) penulis buku Anda Luar Biasa!.

Dari GOR Pakuan Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor (12 Mei 2007) diskusi publik, art perfomance dan Pemutaran film menandai peringatan Widji Thukul: “Merekam Ketidakadilan Melalui Seni” yang diadakan oleh Ultimus, Pantau, Ikohi, Kontras, Komunitas Jumat Malam Jatinangor, Imafo, MA, JPK.

Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Indie Art, Institute for Global Justice (IGJ), Galeri Publik mengadakan rangkaian acara Workshop dan Pameran Seni Rupa Propaganda dari tanggal 11 Maret-11 Mei 2007. Kegiatan ini diakhiri dengan diskusi seni rupa propaganda yang menghadirkan pembicara Yustoni Volunteero (Taring Padi), Ade Darmawan (Direktur Ruang Rupa) dan Revitriyoso (Koordinator Galeri Publik).

Peluncuran buku terbitan Reform Institute Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto mengajak kita untuk meyakini dan merebut kembali metode perjuangan aksi massa serta warisan kekayaan nasional hasil perjuangan revolusi nasional yang terhenti dengan kontra-revolusi 1965 sebagai senjata perjuangan pembebasan nasional dari cengkraman imperialisme. Max Lane, si penulis buku menegaskan dalam pidato peluncurannya di Jakarta 22 Mei 2007: “Masih banyak kekayaan revolusi yang perlu digali kembali termasuk ideologi kerakyatan yang terkandung dalam tulisan-tulisan karya Kartini, Tirto Adi Suryo, Soekarno, dan lain-lain dalam bidang politik maupun sastra”. Sayangnya, karya-karya besar seperti tulisan Soekarno “Nasionalisme, Islam dan Marxisme,” atau karya Sutan Sjahrir, Muhammad Natsir, HOS Cokroaminoto, tidak pernah dibaca anak-anak sekolah Indonesia. “Bagaimana Indonesia bisa menghadapi ancaman Barat jika hasil kekayaan revolusi nasionalnya sendiri tidak diketahui oleh bangsanya?” demikian Max mempertanyakan.

Tidak lama lagi, publik akan dapat menikmati pementasan Teater Nyai Ontosoroh, adaptasi novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer akan dilangsungkan di Jakarta bulan agustus 2007. Sang sutradara, Wawan Sofwan akan didukung squad tim artistik antara lain Dolorosa Sinaga, Gallis A.S, Rin Threesia, Fahmi Alatas, Mogan Pasaribu, Jerry Pattinama, Azis Dying, dan Faiza Mardzoeki sebagai penulis naskah. Para pemain ada Happy Salma, David Chalik, Madina, Andi Bersama, Teuku Rifna Wikana, Join, Margesti, Willem Bevers dan lain-lain.

Rencananya, FSB Retorika Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta akan membuat pementasan Ketoprak Lesung pada 8 September 2007, mengangkat naskah yang diinspirasi dari Tragedi Kemanusiaan ’65 dan pementasan dibuat di kota Jogja.

Tapi seperti sudah ditulis di awal bahwa demokrasi saat ini rentan terhadap represifitas oleh negara (polisi, tentara, kejaksaan agung) serta kelompok-kelompok reaksioner agama seperti: larangan edar terhadap 13 judul buku teks pelajaran sejarah SMP/MTs dan SMA/MA/SMK oleh Kejaksaan Agung dengan SK 19/A/JA/03/2007 tanggal 5 Maret 2007. Alasannya adalah tidak memuat pemberontakan Madiun dan 1965 dalam buku-buku tersebut, serta tidak mencantumkan kata PKI dalam penulisan G30S. PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Azasi Manusia) dan penerbit buku yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia-Ikapi memprotes hal tersebut.

Penundaan Diskusi buku Memahami Revolusi Venezuela pada hari kelima acara May Rally 2007 yang diselenggarakan JPK (Jaringan Peduli Kemanusiaan), Ultimus, Kelompok Kerja Rumah Kiri, Buku Kiri, Aliansi Muda Progresif, dan KontraS (karena diawasi, dibatasi dengan berbagai alasan oleh Kepolisian Resort Bandung) semakin meyakinkan dan menunjukkan bahwa negara tidak bisa menjamin (malah justru membatasi) ekspresi rakyat untuk leluasa berkebudayaan.

Karenanyalah kita untuk tidak bosan membangun persatuan dan konsolidasi antar individu/kelompok pelaku budaya progressif dan kelompok-kelompok minoritas yang kerap jadi korban. Kalaupun tidak bisa berkumpul dalam satu wadah (Partai Politik misalnya) tentunya bisa dengan wadah lain yang lebih longgar semacam Blok Kebudayaan yang punya karakter ilmiah, demokratik, pro rakyat, cinta teknologi serta anti terhadap imperialisme. ***

* Ketua Bidang Budaya Dewan Pimpinan Pusat
Partai Persatuan Pembebasan Nasional – DPP Papernas.

Hari - hari yang melelahkan....


PLTN di muria gimana ya kabarnya? lumayan melelahkan perdebatan yang ada. begitu banyak kepentingan yang masuk dalam kegiatan baik menolak ataupun menerima pembangunan PLTN Muria. uhh... capek dechh (gaul nehh) secara konsep PLTN mungkin ada baiknya, tapi emang kalau di liat dalam kondisi dan sistem pemerintahan indonesia ini memang harus di pertanyakan lagi. ada perusahaan besar yang jelas2 sadar bahwa kedepan krisis energi akan banyak menghantui dalam produksi perusahaan. tapi berani menolak pembangunan PLTN. What Happen men??? kalau memang semulia itu harus dong di dukung. but, who care.. kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu?? Waiiiiiiiiiii???? Tolak PLTN atau Harakiri!!!! ehhh... ada cerita baru. konon kalau jauh sebelum aku lahir di sekitar muria ini masih dikelilingi laut. katanya lagi bahwa untuk bisa mencapai muria harus menyebrang air (lautan) dengan menggunakan sampan ato perahu. bingung juga sehh.. sampai sekarang soalnya tidak pernah diceritakan oleh bapak atau emak. bahkan di sekolah juga tidak banyak disinggung tentang sejarah kota atau asal-usulnya. lebih banyak yang diceritakan adalah hoiii... PKI itu jahat. PKI itu kejammm.. meraka orang-orang yang tidak beragama. mereka adalah kaum yang tidak boleh ada dimuka bumi. kaum yang sudah di laknat oleh Tuhan. bener ga yaa?? tapi kok tokohnya ada punya title haji. H Misbach. konon juga kalau aidit itu punya embel-embel habib. yang bener yang mana nehhh.. persetan dengan segala macam embel-embel ato cap yang diberikan oleh penguasa (yang tidak pantas untuk berkuasa). aku adalah libido kemarahan dari sebuah juwa yang terpenjara dalam duni ini. yang akan selalu menjadi hantu bagi tuhan dan iblis dan penguasa yang ada. hmmm... ada film baru yang bagus die hard ke 4. keren abiss... ancur-ancuran. begitu hebatnya holliwood sehingga bisa menghegemoni lewat banyak karya. kita karya aja di laminating oleh negeri orang. apa yang kemudian masih bisa dibanggakan dari indonesia ini. minyak yang ngebor exxon, lagu yang punya hak paten malaysia, pulau di klaim malaysia, bahkan pentol jarum yang untuk jahit made in taiwan menn... gila banget dechh. beli.. beli... konsumsi.. konsumsi kami sehingga kau akan menjadi anak negeri yang sibuk untuk bisa naik haji. bahasa saja kita sudah tidak bangga.. gue banget gitu lohh... wess ahh.. cukup sekian sekk.. kapan-kapan lageee.. muahh.. muahhh

Surat Dari Kawan

Dear lelaki pemberontak,
Ini adalah surat dari LELAKI PENSIUNAN PEMBERONTAK yang mencoba berdamai dengan kondisi riil untuk mengusahakan solusi tanpa kekerasan. Terima kasih dari saudara sesama lelaki yang sama2 kecanduan kepada ilmu pengetahuan untuk memperkaya khazanah, semoga kita masih termasuk orang2 yang tidak mau ditundukkan oleh hukum yang lupa bahwa hukum juga dilahirkan dari manusia. Mohon maaf kemarin saya belum bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung sesama (veteran ????) angkatan reformasi dan keinginan saling bertukar cerita untuk melepas rindu akan revolusi. Belenggu yang menjeratku makin bertambah ketika duduk sebagai seorang buruh yang selalu ya ya ya dengan atasan (yang ini tidak pernah selalu kulakukan, akibatnya pindah departemen, hahahaha). Dan sekarang aku memasuki episode yang lain : membesarkan anak dalam ruang lingkup. Dari anaklah, aku belajar bahwa perubahan tidak selalu dalam api revolusi, tetapi dapat dilakukan pula dalam medan kebudayaan. Medan ini lebih jangka panjang, karena melampaui beberapa generasi (lebih tepat disebut sebagai evolusi kebudayaan). Dalam terminologi YIN-YANG, apabila sisi "lunak" (baca : kebudayaan) tidak diperkuat terlebih dahulu, maka sisi "keras" (baca : revolusi) tidak akan cukup tajam untuk membuat sebuah perubahan.
Negara memang jahat (seperti dikatakan oleh Socrates), bahkan orang mau melihat pusar perempuan (ranah libido kelamin) juga dilarang. Manusia tanpa libido, tidak akan pernah muncul gairah untuk revolusi. Negara ini memang dipimpin orang-orang GOBLOK yang melihat bahwa libido sumber maksiat. Jika libido (baca lebih luas : hasrat) mati, tentu negara ini dipenuhi manusia yang sudah bukan manusia lagi, karena hasrat keberlanjutan dan perubahan juga ikut mati.
wis ah, maaf masturbasi-ku terlalu panjang.
A Luta Continua !!!
Sujana Dewandaru

SUMPAH PEMUDA DAN NEO-LIBERALISME



Oleh: Rudolfus Antonius


Tahun ini kita memperingati 79 tahun Sumpah Pemuda. Ikrar kebangsaan kaum muda itu menandai fase penegas dalam pergerakan menuju kemerdekaan nasional. Dalam ikrar itu nasionalisme menjadi raison d’etre kemerdekaan demi berdirinya suatu negara kebangsaan. Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa: Indonesia, yakni satu Indonesia yang merdeka.


Bila direnungkan, faham kebangsaan yang terungkap dalam “satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa” mengekspresikan kesatuan geopolitik.


Pertama, Bangsa Indonesia adalah suatu himpunan manusia yang terdiri dari beragam suku bangsa yang mendiami suatu wilayah tertentu. Pada waktu itu, wilayah tersebut adalah Hindia Belanda alias kepulauan nusantara – dari Sabang sampai Merauke – yang dijajah Belanda. Keterjajahan penduduk nusantara mempertemukan mereka dalam kesamaan nasib. Kesamaan nasib ini menjadi dorongan untuk bersatu, merumuskan, bahkan memperjuangkan cita-cita bersama, yakni kemerdekaan nasional dan berdirinya suatu negara kebangsaan.


Kedua, terkait erat dengan itu, tanpa menutup mata apalagi menafsirkan kebhinekaan bahasa ibu setiap suku bangsa, para pemuda mengikrarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang menghubungkan bahkan mempersatukan manusia-manusia nusantara dalam konteks kesamaan nasib dan aspirasi sama, yakni kemerdekaan nasional dan berdirinya suatu negara kebangsaan. Dengan demikian Bahasa Indonesia merupakan bahasa politik, politik kebangsaan.


Nasionalisme adalah jiwa Sumpah Pemuda, sedangkan kemerdekaan nasional dan berdirinya negara kebangsaan merupakan visinya. Sekarang, setelah kemerdekaan nasional dan negara kebangsaan sudah berusia 62 tahun dan kita memperingati 79 tahun Sumpah Pemuda, apakah nasionalisme, kemerdekaan nasional, dan negara kebangsaan masih relevan bagi generasi masa kini Bangsa Indonesia? Pada saat yang sama kita hidup di era globalisasi, yang situasinya tampak sangat berbeda dengan zaman pergerakan nasional saat Sumpah Pemuda dicetuskan. Sekali lagi, apakah jiwa dan visi Sumpah Pemuda masih relevan bagi kita, generasi kontemporer Bangsa Indonesia?


Bila kita menyatakan bahwa jiwa dan visi Sumpah Pemuda masih relevan di era globalisasi ini, setidaknya kita perlu memaknainya berdasarkan dua sisi kenyataan sosio-historis yang saling berdialektik.


Di satu sisi, secara ekonomi-politik barangkali kita mahfum bahwa globalisasi telah menjadi kendaraan Neo-Liberalisme, dengan pemain-pemain utama korporasi-korporasi transnasional, sementara lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti Bank Dunia, IMF, dan WTO menjadi pengawal-pengawalnya. Sebagai rezim perekonomian global, Neo-Liberalisme secara politik telah menelikung pemerintah dari negara-negara kebangsaan di Selatan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi mereka. Secara ekonomik, Neo-Liberalisme menciptakan ketidakadilan yang semakin besar dengan kian terdesak bahkan terjungkalnya pemain-pemain ekonomi yang tak cukup cakap untuk bersaing, dan terpuruknya semakin banyak orang di negeri-negeri Selatan ke dalam jurang kemiskinan yang parah. Neo-Liberalisme juga turut andil dalam memperparah disintegrasi sosial dan kerusakan ekologis di negara-negara Selatan.


Di sisi lain, globalisasi juga menawarkan ajakan kepada kita untuk mengadakan perlawanan terhadap Neo-Liberalisme. Perkembangan-perkembangan di Amerika Latin beberapa tahun terakhir ini memperlihatkan kepada kita bahwa Neo-Liberalisme bukannya tidak dapat dilawan, bahkan ada alternatif alih-alih Neo-Liberalisme. Kekuatan-kekuatan progresif di Amerika Latin bahkan telah mencetuskan pembentukan suatu Internasionale yang baru guna membebaskan dunia dari Neo-Liberalisme.


Berdasarkan kedua hal ini, jiwa dan visi Sumpah Pemuda dapat dimaknai menurut azas-azas yang sebenarnya sudah dikemukan oleh salah seorang founding father kita, Bung Karno. Dalam pemikirannya tentang Pancasila dan Marhaenisme, Bung Karno mengemukakan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.


Sosio-nasionalisme adalah faham kebangsaan yang mengindahkan internasionalisme atau perikemanusiaan. Di satu sisi, kita mengklaim kemandirian bangsa dan negara kita dan menolak campur tangan bahkan dikte dari pihak asing manapun. Implementasinya, dalam bidang ekonomi kita berani menolak Neo-Liberalisme dan menempuh alternatif yang lebih berkeadilan. Di sisi lain, kita mengembangkan solidaritas dengan segenap umat manusia (khususnya bangsa-bangsa yang hidup dalam ketertindasan) dan berjuang demi suatu tata-dunia yang lebih adil-manusiawi.


Sosio-demokrasi adalah faham demokrasi yang menuntut kedaulatan rakyat baik atas kehidupan politik maupun ekonomi suatu negara. Secara politis, rakyat berhak memilih pemimpin-pemimpin mereka serta mengawasi kiprah mereka dalam menyelenggarakan kekuasaan. Secara ekonomik, rakyat berhak atas akses penciptaan kekayaan dan distribusi yang adil dari kekayaan tersebut. Dengan kata lain, rakyat berhak atas keadilan sosial. Dalam hal ini pemerintah bertanggungjawab untuk menciptakan kondisi-kondisi demi terselenggaranya proses yang adil-manusiawi dalam penciptaan kekayaan dan menjamin terselenggaranya distribusi yang adil sehingga segenap rakyat dapat hidup secara layak demi kemanusiaan. Implikasinya, pemerintah harus berani mengambil sikap yang populis terhadap Neo-Liberalisme, juga kapitalisme-kroni yang telah menjadi kanker di republik kita.


Bagaimana dengan kaum muda Indonesia yang hidup di era globalisasi ini? Globalisasi menimbulkan efek hegemonik yang mendomestikasi elan progresif-revolusioner kaum muda. Efek hegemonik itu adalah kesadaran palsu, yang bisa mengambil wujud dalam sikap apatis, pragmatis, atau malah sikap primordial. Sudah waktunya, bila tidak dikatakan terlambat, kaum muda Indonesia mematahkan belenggu kesadaran palsu, mendekonstruksi Neo-Liberalisme, dan mereaffirmasi serta meng-elan-progresif-kan nasionalisme, kemerdekaan nasional, dan negara kebangsaan – demi suatu Indonesia baru, bahkan demi suatu dunia yang baru yang lebih adil-manusiawi.


Rudolfus Antonius adalah mahasiswa pascasarjana fakultas theologia Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.

Sabtu, November 24, 2007

Wiji Thukul: "Orde Baru Memberangus Pikiran Rakyat"

Wiji Thukul, si penyair demonstran itu, lahir di Kampung Sorogenen,

Jebres, Solo, 1963. Seperti mayoritas tetangganya, ayahnya juga

seorang tukang becak. Tahun 1982 ia drop-out dari SMKI (Sekolah

Menengah Karawitan Indonesia), jurusan tari. Pengalaman ini, dan

sejumlah pengalaman lainnya -- seperti menjual koran (waktu tinggal di

Semarang), buruh/tukang pelitur dikampungnya, bahkan ngamen ke

kota-kota lain -- tidak menjadikan dirinya rendah diri.


Pada 1988, Thukul pernah menjadi wartawan di Masa Kini, meski cuma

tiga bulan. Dan puisi-puisinya diterbitkan dalam media cetak dalam dan

luar negeri. Tiga tahun kemudian, bersama dramawan dan penyair WS

Rendra, ia menerima penghargaan Wertheim Encourage Award, yang pertama

sejak didirikan. Waktu itu penghargaan diberikan langsung oleh

Wertheim Stichting di negeri Belanda. Tentang penghargaan ini, Wiji

mengaku sempat bangga karena ia menerimanya lebih dulu dibanding

Pramudya Ananta Toer.


Perkawinannya dengan Sipon -- buruh pabrik moto (bumbu masak) yang

kini jadi penjahit di kampung Kalangan -- dikaruniai dua anak:

Ngantiwani dan Fajar Merah. Ia bangga dengan kedua anaknya karena

lukisan anaknya dengan tanda tangan Wani, pernah membuat aparat

bertanya-tanya. Bahkan anak pertamanya ini sudah pandai membuat fabel

modern yang bagus atas pengalaman tentang penggusuran. Thukul

mendirikan dan mengajar di Sanggar Suka Banjir di kampungnya.

Bersama-sama dengan orang-orang yang peduli pada rakyat, i a juga

mendirikian Sanggar Lukis di Sragen. Buku-bukunya yang terbit sebagai

kumpulan tunggal; Mencari Tanah Lapang; Darman dan Puisi Pelo.

Sedangkan kumpulan puisi bersama, banyak sekali: termasuk yang

diterbitkan Kedubes Jerman.


***********************************************************************


Sebagai penyair maupun aktivis, Anda tidak jarang kena cekal,

diintimidasi bahkan kena gebuk. Bagaimana pengalaman Anda?

* Sebenarnya masalah cekal-mencekal, pelarangan, pembubaran bahkan

intimidasi -- baik terselubung maupun terang-terangan -- adalah

masalah kita bersama. Peristiwa semacam itu setiap hari ada di depan

kita, di kota mana pun ada. Bahkan ada yang lebih dari itu, seperti

dibunuhnya petani atau rakyat kecil diberbagai tempat: Nipah (Madura),

Haur Koneng, Timika, Timtim dan masih banyak lagi. Ini semua adalah

masalah sekaligus pengalaman kolektif kita. Penganiayaan-penganiayaan

itu adalah masalah dan pengalaman t raumatis kita bersama, terutama

masalah rakyat kecil.


* Penganiayaan itu bentuknya macam-macam. Ada bentuk penganiayaan justru

melalui teman-teman sendiri. Teman saya seorang pelukis instalasi

pernah omong tentang itu. Banyak seniman lukis yang tidak berani

melukis realis bukan karena ditakut-takuti tentara atau polisi secara

langsung, tetapi melalui teman-temannya sendiri. Kenapa ditakut-takuti

temannya sendiri? Karena temannya ini mendapat ketakutan dari temannya

yang pernah ditakut-takuti oleh aparat atau mereka yang punya

kekuasaan.


Ini gejala apa?

* Inilah salah satu bentuk penindasan yang paling berbahaya. Sebab

Jumat, November 23, 2007

tentang sesuatu

siang tadi aku berdiskusi dengan kawan yang biasa, bahas tentang sejarah muria. konon sekitar muria itu di kelilingi lautan (sekarang cuma sebelah utara). kudus dan skitarnya awalnya masih berupa lautan. aku seh percaya itu, cuma itukan dah lama banget. jauh sebelum keberadaan sunan sama kerajaan. kalau baca di arus baliknya pram seh, sedikit kliatan emang bahwa sebelah alun2 rembang dulu tempat bersandarnya kapal.
hmmmm....
sejarahnya kita ternyata masih terpotong2, kayaknya lengkap di museum belanda dari pada di arsip nasional kita.
capek banget hari ini, padahal ga begitu sibuk. mau baca2 juga males.belajar ngelola blog aja lahh..
bingung mau nulis apa. otak penuh, tapi ga mau dikeluarin. kurang bercinta kalii yaaa